Akhirat, Negeri yang Dirindukan


Muncul di benak kita siapa yang merindukan akhirat?

Apakah benar semua orang merindukan hal itu?

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Qoshosh:83)

Ternyata tidak, negeri ini dirindukan oleh orang-orang yang meyakini di akhirat-lah tempat terbalaskan amal-amal mereka. Banyak kisah yang bercerita bahwa orang-orang yang belum sempat bertaubat di akhir hidupnya ingin sekali kembali ke dunia walau hanya sedetik saja untuk melakukan kebaikan (bertaubat). Tetapi apakah mereka bisa? Allah dengan ketentuan-Nya tidak mengizinkan, waktu tidak dapat diputar ulang.

Seringkali kita melalaikan waktu, padahal waktu adalah aset kita untuk menyiapkan bekal pulang.

Rasul bersabda bahwa ada dua kenikmatan yang sering kita lalaikan yaitu nikmat sehat dan waktu luang.

Kita lupa bahwa kita sedang berada di dalam perjalanan pulang ke negeri yang kekal. Lantas apa yang sudah kita persiapkan?

Kata pulang umumnya identik dengan sesuatu yang menyenangkan, misalnya, pulang kerja, pulang sekolah, pulang kampong dan lain sebagainya.
Namun, itu bisa menjadi mimpi buruk jika kita tidak menyiapkan bekal. Di beberapa belahan dunia, nusantara khususnya ada suatu kebiasaan seseorang yang merantau tidak mau pulang ke kampong halaman nya sebelum dia sukses karena merasa malu.
Di dunia saja sudah seperti itu, apalagi nanti menghadap Allah di akhirat.

Seperti yang kita ketahui bersama, untuk bertemu dengan Ar-Rahman adalah dengan cara kematian.

Kematian bukanlah kehilangan murni atau kemusnahan semata, tetapi terputusnya hubungan Roh dengan jasad, terputusnya jiwa dari raga, pergantian keadaan, dan perpindahan dari satu kampung ke kampung lain.

Kematian adalah babak baru. Titik awal dari kelanjutan hidup kita. Ibarat sebuah telur ayam yang menetas. Anak ayam adalah jiwa kita yang hidup kembali, cangkang telur adalah dunia dan di luar telah menanti alam yang jauh lebih luas dari sekedar cangkang telur.

Kematian milik semua orang, tetapi khusnul khotimah tidak.

Lalu bagaimana menggapai akhir hidup terindah (khusnul khotimah)?

#1 Mengingat Kematian
Rasulullah saw bersabda:
”Sesungguhnya hati itu bisa berkarat seperti besi yang berkarat”
Ada yang bertanya, ”Wahai Rasulullah, bagaimana cara membersihkannya?”
Beliau menjawab, ”Membaca Al-Quran dan mengingat kematian” 
(HR. Al-Baihaqi)

#2 Menyiapkan Bekal
“Berbekallah..., dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah TAKWA
dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”
(QS. Al Baqarah, 2:197)
Sumber lain menyebutkan:
”Jika mati seorang anak Adam, terputuslah amalannya kecuali 3 hal:
1- Shadaqah  jariyah,
2- Ilmu yang bermanfaat,
3- Anak shaleh yang mendoakan orang tuanya”
(HR.MUSLIM)

#3 Cerdas Menggunakan Waktu dan Menyusun Skala Prioritas
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”(QS. Al Ashr, 103:1-2)

#4 Muhasabah
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al Hasyr, 59:18)


***
(Ceramah Ust. Ia Mukti (Narasumber MQFM) berjudul "Akhirat, Negeri yang Dirindukan" di Masjid Miftahul Hidayah pada hari Ahad, 3 April 2016 yang diselenggarakan oleh ODOJ DPA BANDUNG)
Akhirat, Negeri yang Dirindukan Akhirat, Negeri yang Dirindukan Reviewed by Robby Hardi SM on 6:33 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.